AKSI – “Pemimpin perempuan dianggap kompeten tapi menghadapi berbagai hambatan sosial, budaya, juga rendahnya kepercayaan diri”, demikian menurut laporan dari tim INOVASI. Atas dasar itu, kerjasama dengan Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) bertujuan untuk menggali lebih banyak potensi kepemimpinan kepala sekolah perempuan di berbagai daerah.

Kegiatan akan difokuskan pada tiga provinsi, yaitu Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Di masing-masing provinsi akan digali beberapa kabupaten. Di NTT empat kabupaten, di Jawa Timur empat kabupaten, dan di Jawa Barat dua Kabupaten.

Kegiatan dilakukan kerjasama pengurus AKSI pusat dan daerah dengan tim INOVASI. Kegiatan meliputi penyusunan kriteria sosok kepala sekolah perempuan hebat di jenjang sekolah dasar, sosialisasi kriteria kepala sekolah hebat, seleksi kepala sekolah perempuan hebat, penyusunan video dokumenter kepala sekolah perempuan hebat, seminar kepala sekolah perempuan hebat di daerah, dan seminar kepala sekolah perempuan hebat di tingkat nasional.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberi dukungan dan semangat kepada guru-guru perempuan untuk berani berkarir menjadi kepala sekolah perempuan hebat diberbagai daerah. Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd, Sekjen DPP AKSI mengatakan, kaum perempuan diakui memiliki tingkat ketekunan dan kesabaran dalam mengemban tugas pendidikan. Keterlibatan perempuan menjadi kepala sekolah perlu mendapat perhatian karena jumlahnya masuh dominan kaum laki-laki.

Selain dukungan dari luar, kaum perempuan juga perlu terus meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan dan kompetensi profesi keguruan dan kepemimpinan. Seorang pemimpin tentu memiliki berbagai tantangan berat yang harus dihadapi. Kompetensi menajerial, sosial, kewirausahaan, dan kepribadian benar-benar harus dimiliki.

Dr. Toto menyamapaikan, “pemimpin laki-laki atau perempuan, pada prinsipnya harus pandai berbagi peran antara tugas di rumah dan di dunia kerja. Tugas di rumah harus dikelola sama baiknya dengan tugas di dunia kerja. Untuk mengelola keduanya dengan baik, kembali kepada kompetensi yang harus mumpuni dimiliki.***

 

Spread the love

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *