SATUKASI – Kerjasama AKSI dengan INOVASI, pada tanggal 11 Maret 2026 akan lakukan Gelar Wicara “Meperkuat Kepemimpinan Perempuan untuk Pendidikan Indonesia lebih Inklusif, di Gedung Kemendikdasmen Jakarta. Bisa dikuti live youtube INOVASI dan TVAKSI. Tema ini berangkat dari kondisi kepemimpinan perempuan di sekolah masih dominan laki-laki. Sementara jumlah guru perempuan sudah lebih banyak dari laki-laki. Berdasarkan data base anggota AKSI di seluruh Indonesia, kepala sekolah perempuan kurang lebih 39% dan kepala sekolah laki-laki 61%.
AKSI bekerjasama dengan INOVASI mencoba mengurai permasalahan yang terjadi di kaum perempuan terkait dengan kepemimpinan. Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Sekjen DPP AKSI mengatakan hambatan munculnya kepemimpinan kaum perempuan di sekolah ada dua yaitu internal dan eksternal.
Faktor internal, berkaitan dengan mindset dan motivasi berprestasi kaum perempuan yang masih stereotif. Terkadang cara berpikir kaum perempuan masih terbentuk sesuai dengan arus utama pola pikir yang dimiliki masyarakat. Pola pikir-pola pikir perempuan sebagai pekerja di rumah tangga, mengurus anak, dan berbakti pada suami, dimiliki kaum perempuan sendiri.
Faktor eksternal,Β berkaitan dengan pengaruh lingkungan seperti pemikiran agama, tradisi, ekonomi, dan politik. Di masyarakat narasi ajaran agama bahwa pemimpin adalah lak-laki masih kuat. Tradisi masyarakat sering memosisikan perempuan adalah pekerja rumah tangga, menjaga harta suami, mengurus anak, dan suami adalah kepala keluarga.
Fakta penelitian, perempuan yang bekerja diluar rumah memiliki jam kerja lebih lama dari laki-laki. Perempuan yang bekerja di luar rumah, selalu melakukan tugas-tugas di rumah tangga. Kondisi ini diakui oleh kepala sekolah perempuan di Indonesia. Kondisi beban kerja kadang menjadi pertimbangan perempuan dalam mengambil keputusan untuk menjadi pemimpinan.
Di lingkungan kerja, jarang ada kebijakan-kebijakan kerja yang ramah terhadap kaum perempuan. Kebijakan-kebijakan di dunia kerja jarang mempertimbangkan kepentingan kaum perempuan. Jarang ada tempat kerja menyediakan tempat bermain anak, pengasuh, dan ruang menyusui.Β Hal ini membuat lingkugan kerja tidak nyaman bagi perempuan. Kebijakan seperti cuti hamil, cuti haid, kadang masih ada yang mempermasalahkan di lingkungan kerja.
AKSI dengan INOVASI mengangkat masalah ini ke publik untuk mendorong kaum perempuan berani tampil, mempersiapkan diri, dan berkarir menjadi kepala sekolah perempuan di dunia pendidikan. Posisi laki-laki dan perempuan tidak bersifat struktural tapi bersifat fungsional. Lakai-laki dan perempuan berkolaborasi saling melengkapi dalam memajukan pendidikan Indonesia, untuk Indonesia emas 2045.***
