SATUAKSI – Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) mengambil langkah strategis untuk memperkuat kepemimpinan perempuan di sektor pendidikan. Melalui lokakarya pengembangan desain studi pendokumentasian praktik baik kepala sekolah perempuan, AKSI berkomitmen untuk mengumpulkan dan memublikasikan kisah sukses para pemimpin perempuan yang selama ini kurang terlihat. Kegiatan yang berlangsung di Aula Bale Atikan BBGTK Provinsi Jawa Barat pekan lalu mendapat dukungan dari Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), kemitraan pendidikan antara Indonesia dan Australia.
Ketua Umum DPP AKSI, Dudung Nurullah Koswara, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan signifikan antara jumlah guru perempuan dan kepala sekolah perempuan di Indonesia. Berdasarkan studi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tahun 2024, meskipun 68 persen guru di Indonesia adalah perempuan, hanya 44 persen yang berhasil menduduki posisi kepala sekolah. “Ketimpangan ini semakin terasa di setiap jenjang pendidikan. Kepemimpinan perempuan mencapai 49 persen di SD, namun turun drastis menjadi 34 persen di SMP, 29 persen di SMA, dan hanya 27 persen di SMK,” papar Dudung di Bandung, Jawa Barat, Senin (4/11).
Temuan serupa juga diperkuat oleh studi baseline INOVASI tahun 2025 di berbagai wilayah kerja. Jumlah kepala sekolah perempuan hampir selalu lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki, meskipun jumlah guru perempuan jauh lebih banyak.
Dudung menjelaskan bahwa sejumlah faktor menyebabkan ketimpangan ini, antara lain norma sosial dan budaya, keterbatasan akses terhadap pengembangan kepemimpinan, minimnya jejaring profesional, serta tantangan peran domestik dan profesional. “Laki-laki maupun perempuan memiliki potensi yang sama untuk memimpin. Namun, perempuan masih menghadapi tantangan seperti bias sosial, kebijakan yang belum sepenuhnya afirmatif, serta beban ganda di rumah. Mengakui hambatan ini penting untuk mendorong ruang dialog yang konstruktif,” tegasnya.
Dudung mengatakan pengalaman para kepala sekolah perempuan menunjukkan bahwa dengan dukungan, baik dari keluarga, komunitas, maupun kebijakan institusional, perempuan dapat berperan aktif dalam kepemimpinan. “AKSI berusaha mendorong sistem pendidikan yang lebih responsif dan adaptif terhadap kebutuhan perempuan,” tegasnya.
Direktur Program INOVASI, Sri Rezki Widuri, mengapresiasi upaya AKSI yang mendokumentasikan praktik baik kepala sekolah perempuan sebagai bagian dari penguatan kepemimpinan perempuan. Ia mendorong semua pihak untuk bekerja sama memperkuat peran perempuan di sektor pendidikan. “Ketika lebih banyak guru dan kepala sekolah perempuan saling berbagi pengalaman, strategi, dan mentoring, ekosistem kepemimpinan pendidikan di Indonesia akan semakin kuat. Ruang-ruang pembelajaran dan jejaring seperti ini harus terus kami kembangkan bersama,” ujar Sri.
Lokakarya ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari tiga wilayah, yaitu Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Timur. Perwakilan AKSI dari ketiga daerah tersebut turut berpartisipasi secara dalam jaringan (daring) untuk memastikan desain studi yang aplikatif dan kontekstual. Sepanjang kegiatan, peserta mengikuti sesi paparan penguatan konsep kepemimpinan, diskusi reflektif berbagi pengalaman, dan pleno penyepakatan draf desain studi. Hasil dari lokakarya ini akan menjadi acuan pelaksanaan pendokumentasian praktik baik di lapangan. ###
